HTI-Press.Baru-baru ini Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mengeluarkan laporan khusus bagaimana mengkonter radikalisasi internet di Asia Tenggara. Dalam salah satu bagian dari laporan yang berjudul Countering internet radicalisation in Southeast Asia (edisi March 2009 — Issue 22) menyoroti website HTI dengan infokomnya. Salah satu saran dari lembaga kajian ini adalah menindak tegas pengelola website yang dituding radikal.
Artikel dalam laporan ini menampilkan kecemasan tentang gelombang radikalisme dan terorisme yang berkembang di Asia Tenggara, terutama yang menggunakan media internet. Dalam halaman 7, HTI diperkenalkan sebagai kelompok radikal yang menyerukan kepada Syariah dan Khilafah dan diakui sebagai kelompok yang mengedepankan gerakan politik dan tidak menggunakan kekerasan.
Infokom sebagai sayap media dari HTI mendapatkan perhatian khusus (Hal 17) karena produk Infokom diakui memiliki model dan kualitas penyampaian berita yang sama dengan media massa TV professional. Produksi media Infokom menggunakan teknik jurnalistik pihak ketiga dalam laporannya. Artinya, reporter Infokom meliput kegiatan kelompok HTI seakan-akan bahwa ia bukan bagian dari HTI sehingga memberikan kesan penyampaian berita yang obyektif. Ditambah lagi dengan editing visual yang bagus, animasi yang mengesankan, dan narasi yang meyakinkan membuat Infokom seakan-akan menjadi sumber berita yang memiliki kredibelitas. Lebih jauh lagi video yang ditampilkan juga selalu menunjukkan animasi kalimat syahadat yang membuat produk media ini seakan-akan berasal dari media massa mainstream.
Penggunaan bahasa Inggris (subtitle) dalam video kegiatan HTI dan translasi bahasa dari kegiatan HT di luarnegeri oleh Infokom juga merupakan upaya untuk menyatukan perasaan anggota HTI bahwa gerakan ini merupakan bagian dari gerakan internasional. Contoh yang paling mencolok dari penggunaan internet oleh Infokom adalah advertensi yang intens dalam persiapan Konferensi Khilafah di tahun 2007 yang akhirnya diikuti oleh seratus ribu orang. Ini merupakan bukti bahwa penggunaan internet dunia maya tidak lagi bisa dipisahkan dari aktifitas di dunia nyata.
Mengingat pentingnya internet dalam menyebarkan paham ekstrimis, artikel ini menyarankan tiga macam strategi, yaitu strategi keras, strategi lunak, dan strategi berbasis intelijen. Strategi keras berarti toleransi nol yang menindak website dan adminnya secara tegas. Strategi lunak menggunakan counter website yang mempromosikan islam yang lebih toleran dan inklusif. Strategi terakhir adalah berbasis intelijen yang bertugas memonitor, penyidikan, penghentian kegiatan hingga penahanan. Tiga strategi ini diharapkan bisa dilakukan secara bersamaan.
Bagi umat Islam, saran-saran seperti ini tentunya tidaklah mengherankan. Kesadaran umat tentang penting menegakkan syariah dan khilafah telah membuat takut negara-negara imperialis termasuk Australia. Sebab tegaknya syariah dan Khilafah akan menghentikan penjajahan mereka atas dunia Islam. Untuk terkesan objektif , biasanya laporan dibuat seolah-olah lembaga kajian yang netral dan ilmiah. Namun, bukan rahasia umum, kalau banyak lembaga kajian yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik negara imperialis.
Lembaga kajian seperti ini sering mempersoalkan dakwah lewat internet yang dilakukan kelompok Islam dengan tudingan teroris dan ekstrimis. Tapi tidak mempersoalan media masa Barat yang juga menjadi alat propaganda liberalisme yang jauh lebih massif dan sistematis untuk mendukung kebijakan penjajahan negara Barat. Yang jelas , bagi umat Islam, bagaimanapun sikap negara-negara imperialis tersebut perjuangan untuk menegakkan syariah Islam lewat berbagai media terus berjalan dan tidak boleh berhenti. Karya-karya besar tetap dinantikan umat. (Rusydan/FW)
Jangan-jangan nanti blog ini juga sedang dalam pemantauan ASPI. rekomendasi ASPI untuk menggunaan 3 strategi secara bersamaan hanya menunjukan fakta untuk kesekian kalinya bahwa ajaran demokrasi dan kebebasan berpendapat ala Barat hanyalah omong kosong. keep spirit.